Ada Sejak Tahun 80-an, Rujak Petis di Sambongdukuh Jombang Mantap

  • Bagikan
kuliner jombang rujak
Seporsi rujak petis di warung Bu Romlah, Desa Sambongdukuh, Kecamatan/ Kabupaten Jombang.

FaktaJombang.com – Ingin makan dengan selera pedas atau nggak pedas-pedas banget di siang hari? Tak ada salahnya menyantap rujak petis atau bertabur cingur. Penganan satu ini memang gampang ditemukan di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Jombang.

Salah satunya di warung Bu Romlah (59). Rujak petisnya merupakan menu favorit yang banyak diburu penikmat penganan yang biasanya terdiri dari irisan timun, tahu, tempe, kecambah atau taoge, dan kangkung serta lontong. Pengunjung juga bisa memilih, apakah ditambah irisan buah seperti bengkuang, kedondong.

“Pakai cabai berapa,” begitu Bu Romlah mengawali bertanya ketika konsumen yang datang memesan rujak petisnya, Jumat (26/3/2021) siang.

Selalu bertanya begitu, karena masing-masing orang memiliki selera pedas berbeda. Ia selalu menuruti permintaan konsumen, sekalipun harga cabai rawit sedang melangit.

“Nggak masalah, biarpun cabai saat ini harganya mahal, tetap kami layani. Risiko berdagang,” jawabnya seraya menaruh kacang goreng dan mengris buah pisang batu (kelutuk) sebagai bagian dari bumbu rujak.

Kalau cingur (bagian mulut sapi), warung yang berlokasi di Jalan Laksda Adi Sucipto atau 100 meter barat traffic light Sambongdukuh, Kecamatan/ Kabupaten Jombang ini, tidak menyediakan. Bu Romlah, hanya menyediakan cecek (kulit sapi).

“Rujaknya pakai cecek saja. Pengganti cingur, karena harganya juga beda. Lebih mahal. Takutnya banyak yang nggak mampir,” kata Bu Romlah sambil mengulek bumbu rujak pesanan konsumen.

Jika kebetulan sedang lapar banget, Anda bisa mengganti lontong pada rujak petis ala Bu Romlah ini dengan nasi putih. Soal harga, tetap sama dan tentunya pas di kantong. Yakni Rp 7 ribu-an.

Bu Romlah mengatakan, membuka warung rujak petis di situ, sejak tahun 1980-an. Maka tak heran, jika warungnya tak sepi pengunjung. Ada yang makan di situ, juga ada yang membungkus.

“Kalau saya sedang capek ngulek, ya anak saya ini yang mengganti ngulek,” ujarnya.

Bu Romlah mengatakan, selain sebagai pengganti mengulek bumbu rujak kala ia lelah, anaknya memang diajari agar ahli berdagang rujak petis.

“Namanya makanan tradisional, harus tetap ada dan dijaga. Ya semoga saja, nantinya bisa lebih berkembang,” ucapnya memungkasi. *)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *