FaktaJombang.com – Keluhan warga soal bau menyengat dari limbah PT Satwa Utama Raya (SUR) Unit 3, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, akhirnya ditindaklanjuti Komisi C DPRD Jombang.
Sebanyak 6 wakil rakyat ini, melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke perusahaan budidaya ayam petelur ini, Senin (31/1/2022) siang. Tujuannya, melakukan kroscek ke perusahaan yang diduga membuang bangkai ayam ke dalam kolam di area pabrik tersebut, sehingga menimbulkan aroma busuk dan mengganggu warga sekitar.
“Sidak kami lakukan setelah mendapat informasi terkait bau menyengat diduga berasal dari PT SUR 3,” kata Choirul Anam, ketua Komisi C.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hanya saja, sidak Komisi C kali ini tidak berlangsung mulus. Pihak perusahaan seolah mempersulit anggota dewan untuk masuk dan melihat langsung kolam pembuangan bangkai ayam serta proses pembakaran bangkai tersebut.
Alasannya, rombongan Komisi C harus menjalankan SOP (standar operasional prosedur) yang ditetapkan pihak perusahaan. Di antaranya, harus mandi dulu dan ganti pakaian APD.
Alhasil, Komisi C yang terdiri ketua Choirul Anam dan anggota Lutfi Kurniawan, Samsul Hudah, Wiwin, dan Dian Ayunita ini, tidak jadi mengkroscek hal-hal yang direkomendasi DLH Jombang, apakah sudah dilakukan pihak perusahaan atau belum.
Keenam wakil rakyat ini, juga hanya ditemui pihak perusahaan di luar pos zona 1, setelah pintu gerbang PT SUR 3 Balongsari. Mereka ditemui dengan duduk di bangku kayu panjang yang berada di dekat parkiran kendaraan roda empat.
Kepada Komisi C, Admin PT SUR 3 Balongsari, Tomi mengatakan, penanganan soal bau menyengat sudah dilakukan setelah pihaknya mendapat komplain warga.
“Kami mewakili manager dan GM yang masih menangani produksi. Kami akan menjelaskan sebatas yang kami tahu,” kata Tomi.
Belum lama ini, lanjutnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang sudah melakukan sidak terkait keluhan warga setempat. Oleh DLH, pihak pabrik diarahkan untuk melakukan penyedotan pada kolam pembuangan bangkai ayam. “Penyedotan itu, kita diarahkan ke Dinas Perkim,” ujarnya.
Selain itu, DLH Jombang merekomendasikan agar kolam pembuangan bangkai ayam tersebut, diuruk. “Saat ini, hampir 90 persen sudah ditangani,” ungkap Tomi.
Kendati demikian, Tomi mengaku, bau busuk tersebut masih ada alias belum hilang total. “Harapan kami tidak ada bau lagi. Karena sudah tertutup semuanya. Sudah disadur dicampur dengan kapur, koral, pasir, arang, klorin. Sudah kita kerjakan semua. Dan proses saat ini kami lakukan proses perapian atau pembakaran,” sambungnya.
Ditanya kapan perusahaan tersebut? Tomi menjawab tidak tahu persis. Ia beralasan baru 2 tahun bekerja di perusahaan tersebut. “Menurut cerita, pabrik ini berdiri sekitar tahun 1990-an,” ujar Tomi.
Sebab itu, dirinya mengaku tidak tahu proses pembangunan perusahaan ini termasuk proses disposal atau pembuangan limbah. Ia hanya menjelaskan jika kontur tanah di area pabrik adalah terkategori bergerak, sehingga tanah tidak bisa langsung menyerap air.
“Kemungkinan analisa saya, kalau disposal atau septic tank harus kedap air, nggak boleh pecah. Karena panas hujan akhirnya timbul keretakan. Pas posisi hujan, merembes dari bawah, naik,” jawab admin PT SUR 3 ini.
Saat ini, kata Tomi, proses pengolahan limbah bangkai ayam tersebut sudah dengan cara dibakar, seperti rekomendasi DLH Jombang. “Kita juga diminta meninggikan cerobong asap pembakaran,” lanjut Tomi.
Syamsul Huda, anggota Komisi C meminta agar manajemen pabrik segera merespon keluhan warga. Ia pun menyayangkan pihak pabrik yang selama ini kurang memperhatikan IPAL (instalasi pengolahan air limbah).
“Yang kami sayangkan kenapa pabrik baru melakukan pengurukan setelah dikomplain warga. Padahal perusahaan ini sudah berdiri sudah hampir 30 tahun. Mestinya karena PT SUR ini perusahaan besar memperhatikan tentang IPALnya,” kata Samsul Gudah,
Sementara anggota Komisi C lain, Lutfi Kurniawan juga mengatakan hal senada. Sepanjang pabrik ini didirikan tahun 1990-an, mengapa baru-baru ini membuat IPAL pembakaran limbah bangkai ayam.
“Terkait ini, tentu kita akan minta penjelasan pihak terkait, seperti dinas perijinan terkait perijinan pabrik ini, dan DLH soal rekomendasi yang dikeluarkan, ” tandasnya.
Sekedar diketahui, selain bau busuk, warga sekitar juga mengeluhkan debu yang disemburkan oleh blower PT SUR Unit 3 Balongsari ini. Bahkan, warga sekitar sempat protes dan menggelar unjukrasa terkait dugaan pencemaran lingkungan sekitar perusahaan tersebut.
“Sekitar tahun 2017 lalu warga pernah demo ke PT SUR 3 soal itu. Pihak perusahaan sepakat untuk memperbaiki blower agak tidak menimbulkan suara bising dan menyemburkan udara kotor ke lingkungan warga. Tapi kenyataannya sudah beberapa tahun berlalu tidak ada tindakan dari perusahaan,” papar seorang warga yang enggan menyebut namanya ini.