Diguyur Hujan, Tembakau Petani Utara Brantas Jombang Layu dan Mati

  • Share
Salah satu petani menunjukkan tanaman tembakau yang ditanamnya, layu dan mati akibat diguyur hujan,

FaktaJombang.com – Petani tembakau di kawasan utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terancam merugi. Pasalnya, tanaman tembakaunya layu bahkan mati setelah diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir, Senin (21/6/2021).

Seperti di Dusun Ngebul, Desa Sidokaton, Kecamatan Kudu, Jombang. Di lokasi ini, tampak ribuan tanaman tembakau kondisinya layu dan mati. Petani setempat terpaksa mencangkuli lahan untuk membongkar tanaman tembakaunya dan menggantinya dengan bibit yang baru.

“Hujan dua kali. Yang Kamis kemarin hujan deras selama dua jam. Tanaman tembakau jadi layu dan mati, karena akarnya membusuk tergenang air hujan,” kata Supolo, petani setempat, Senin (21/6/2021).

Dia mengatakan membongkar tembakau yang ditanam di lahan seluas sekitar 3.500 meter persegi itu, karena tanaman setinggi sekitar 30 sentimeter itu sudah tidak bisa diharapkan.

“Kalau tembakau yang masih kecil masih ada harapan walaupun layu begini karena belum dipupuk. Kalau yang begini (besar), nggak bisa,” katanya seraya membanting satu tanaman tembakau yang sudah dibongkarnya.

Sedangkan petani lain, masih di wilayah Kecamatan Kudu juga merasakan hal sama. Tanaman tembakaunya layu dan mati akibat diguyur hujan. Dia memprediksi bakal merugi, jika hujan masih mengguyur.

“Kalau sampai Juli nanti hujan masih terus terjadi, bisa dipastikan seluruh petani tembakau gagal tanam,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Jombang, Lasman membenarkan, tanaman tembakau milik petani di kawasan utara Sungai Brantas Jombang, layu dan mati akibat guyuran hujan.

Pihaknya mengaku juga sudah mensosialisasikan kepada petani tembakau di wilayahnya soal cuaca terkini. Berdasarkan informasi dari BMKG Karangploso, Kabupaten Malang, sambung Lasman, bahwa bulan Juni 2021 ini, curah hujan masih di atas rata-rata.

“Curah hujan menurun terjadi pada bulan Juli. Sedangkan puncak kemarau, menurut BMKG, pada Agustus mendatang,” paparnya.

Lasman juga berharap, petani tembakau lebih dulu mempersiapkan olah lahan, sebelum menanam tembakau. Teknisnya, lanjut Lasman, setelah membajak lahan, petani bisa menanam tembakau pada posisi atas atau pada tanah gundukan.

“Olah lahan itu penting. Kadang-kadang, petani masih menanam tembakau di posisi tanah bawah. Padahal yang benar itu di atas (gundukan),” katanya.

Kalau ditanam di atas atau gundukan, lanjutnya, fungsinya agar air hujan tidak sampai menggenangi tanaman, seperti yang terjadi kala tembakau ditanam di bawah.

“Karena genangan air itulah membuat akar tembakau bisa membusuk. Selain itu, petani tembakau juga mempersiapkan saluran irigasi kecil,” terangnya.

Saat ini, lantaran sudah terlanjur tanaman tembakau petani layu dan mati akibat diguyur hujan, Lasman mengatakan, upaya sementara ini yang bisa dilakukan petani adalah membuat saluran air.

“Harus dibuatkan got atau saluran air itu, agar air hujan bisa mengalir atau tidak merendam tanaman tembakau,” pungkasnya.

Sementara data dari Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, saat ini di wilayah utara Sungai Brantas, meliputi Kecamatan Ploso, Kabuh, Ngusikan, Plandaan dan Kudu, para petani sudah menanam tembakau dengan luas lahan 5.800 hektare. *)

Salah satu petani saat berada di sawah yang ditamani tembakau yang layu dan mati akibat diguyur hujan.
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *