Gonjang-ganjing Raibnya Isi Kotak Amal Pembangunan Masjid di Gambiran Jombang

masjid baitu muttaqin gambiran mojoagung jombang
Masjid Baitul Mukminin Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, yang masih tahap pembangunan.

FaktaJombang.com – Kotak amal masjid Baitul Mukminin, Dusun Gambiran Utara, Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, menjadi gonjang-ganjing. Pasalnya, isi kotak amal tersebut kerapkali tanpa isi, diduga dicuri orang.

Hingga saat ini, Rabu 16 Februari 2022, belum diketahui siapa pelaku dugaan pencurian isi kotak amal yang diletakkan di depan masjid tersebut. Hingga upaya jalur hukum pun ditempuh, meski hasilnya tak sesuai yang diharapkan.

Salah satu warga berinisial MAR menceritakan, peristiwa isi kotak amal yang raib tersebut berawal dari pembangunan masjid di dusun/ desa setempat. Sekitar satu tahun lalu, rencana pembangunan masjid itu muncul, setelah pemilik tanah, Benu berniat mewakafkan tanah seluas 250 meter persegi. Niat Benu, agar tanah yang dia wakafkan itu dibangunkan musala.

Panitia pembangunan musala pun dibentuk. Hingga kemudian, MAR menuturkan, sempat usul ke panitia agar tidak dibangun musala, melainkan masjid. Ia pun memberi solusi agar tanah yang diwakafkan Benu itu diperluas.

MAR juga menyanggupi untuk membeli tanah perluasan lahan untuk pembangunan masjid dari kantongnya. Pun demikian untuk biaya pembangunan masjidnya.

“Panitia setuju dan proses pembelian tanah saya lakukan, kemudian pembangunan masjid pun berjalan,” tutur MAR, Rabu (16/2/2022).

Sejak itu, lanjut MAR, struktur kepanitiaan berubah. Ia ditunjuk dan ditetapkan sebagai ketua panitia pembangunan masjid. “Panitia juga menunjuk R sebagai bendahara panitia,” sambungnya.

Untuk menopang pembiayaan pembangunan masjid, panitia membuat kotak amal yang diletakkan di depan proyek masjid tersebut. Nah, disinilah kemudian muncul persoalan cukup serius. Setiap dua hari sekali, begitu kotak amal itu dicek, selalu kosong.

“Kotak amal selalu kosong saat dicek. Itu terjadi tidak hanya sekali, tapi berulang kali,” ujarnya.

Agar tidak terjadi simpang-siur dan saling fitnah, panitia menggelar rapat terkait persoalan dugaan raibnya isi kotak amal tersebut.

“Di rapat itu, R mencurigai jika hilangnya isi kotak amal itu dari ulah beberapa warga yang rumahnya berada di sekitar masjid,” jelasnya.

Kemudian, lanjut MAR, hasil rapat itu juga menyepakati jika posisi R berubah, yakni di posisi sekretaris. “Dari rapat itu, R dijadikan sekertaris penitia. Kebijakan ini agar tidak terjadi kisruh dengan warga,” papar MAR.

Rupanya, kejadian hilangnya isi kotak amal yang diletakkan di depan lokasi pembangunan masjid itu, terus berulang. Hingga kemudian, MAR berinisiatif meminta sejumlah orang untuk ikut mengawasi kotak amal.

“Dan ternyata, pada hari Jumat 28 Januari 2022, mereka melihat bahwa R-lah yang mengambil uang dalam kotak amal itu,” ucap MAR.

Mendapat informasi itu, lanjut MAR, panitia pun memanggil R dan menanyai persoalan isi kotak amal tersebut, sekaligus apakah benar ia berbuat demikian.

“Ya tentu R ditanya soal perbuatannya yang sempat dipergoki sejumlah orang yang saya minta untuk mengawasi kota amal. Tapi R nggak mengakui, bahkan mencaci–maki saya sebagai ketua pantia,” jelasnya.

Karena R tetap bersikukuh dan bergeming tidak melakukan apa yang ditudukan, MAR pun menempuh jalur hukum. Ia melaporkan ke Polsek Mojoagung terkait dugaan pencurian isi kotak amal tersebut. Hanya saja, MAR mengaku menerima bukti pengaduan, bukan bukti pelaporan.

“Dan anehnya, tadi saya menerima SP2HP dari Polsek Mojoagung, jika unsur pidananya belum ditemukan, sehingga belum bisa dinaikkan ke laporan polisi. Padahal, saya ini tidak asal ngomong,tapi berdasarkan bukti dan saksi,” tandas MAR.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat setempat berinisial HS saat dimintai informasi media ini mengatakan, jika dirinya tidak tahu persis berapa jumlah isi kotak amal yang sudah raib itu.

“Karena R sebagai bendahara waktu itu tidak pernah melapor ke panitia. Kalau R saat itu transparan tentu kami akan tahu berapa jumlah isi kotak amal dan untuk apa saja uang tersebut,” katanya.

HS juga mengatakan, selama ini, panitia pembangunan masjid tidak serta merta menuduh R yang berbuat demikian. Sementara jalur hukum yang ditempuh ketua panitia itu, untuk mengurai benang kusut dari persoalan ini.

“Ya kita lihat saja perkembangannya nanti. Yang jelas, tentu ada upaya-upaya dari panitia pembangunan masjid,” pungkasnya.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, FaktaJombang.com belum bisa mengkonfirmasi Kapolsek Mojoagung, terkait persoalan ini. Meski begitu, upaya melakukan konfirmasi, tetap terus dilakukan. *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *