Harga Cabai Rawit di Tingkat Petani Jombang, Anjlok

  • Bagikan
Ahmad Nahrowi, petani cabai rawit Desa Brangkal, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang, saat memanen tanaman cabai rawit miliknya.

FaktaJombang.com – Harga cabai rawit di Kabupaten Jombang, kini tak lagi pedas. Sejak beberapa hari terakhir, harga cabai rawit di tingkat petani turun drastis mencapai Rp 25 ribu per kilogram, Jumat (11/2/2022).

Turunnya harga cabai rawit yang akhir tahun 2021 lalu sempat meroket tajam, diduga karena pasokan bahan pangan ini melimpah. Disamping itu, juga diperkirakan karena intensitas hujan tinggi yang melanda Kota Santri.

Ahmad Nahrowi, petani cabai rawit Desa Brangkal, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang mengatakan, harga cabai di tingkat petani sempat mencapai angka Rp 80 ribu per kilogram. Namun kemudian, merosot tajam hingga di kisaran Rp 12 ribu.

“Saat ini, naik lagi menjadi Rp 25 ribu per kilogram,” katanya, saat diwawancarai sejumlah wartawan di lahan pertaniannya.

Ia juga mengatakan, sejak bulan Januari 2022 lalu, harga cabai rawit tidak menentu. Kadang, mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogramnya.

“Harga cabai rawit saat ini turun, karena pasokan cabai rawit di pasaran mungkin sedang melimpah,” sambungnya.

Dijelaskannya, saat ini biaya pokok produksi (BPP) dan biaya modal (break event point) sebanyak Rp 8 ribu per pohon cabai. Dengan produksi rata-rata 0.8 kilogram per pohon cabai. Sementara hasilnya, antara satu hingga dua kwintal sekali panen.

Dikatakannya, harga Rp 8 ribu per pohon cabai itu, belum termasuk biaya atau ongkos petik yang makin tinggi. Sebab itu, petani enggan memanen cabai rawit saat harga anjlok seperti saat ini.

“Kalau harga turun seperti ini, ya kami memanen semampunya, ketimbang busuk. Hasil panennya, biasanya kami kirim ke pasar Pare, kadang juga ke Surabaya,” katanya.

Menurutnya, kendala lain yang dialami petani di wilayah sentra cabai rawit di Kabupaten Jombang ini, yakni masih mahalnya harga pupuk serta banyaknya serangan hama.

“Kalau kurang pupuk, pohon akan layu dan kualitas cabai kurang bagus, sehingga mudah terserang hama pethek atau cacar pada pohon dan buah cabai,” ungkapnya.

Nahrowi berharap, pemerintah bisa memantau harga cabai rawit dan bahan pangan lainnya agar tidak terjadi fluktuasi harga. Sejauh ini, kata dia, harga cabai rawit yang sempat meroket di pasaran, di saat petani belum panen.

“Pupuk mahal, apa-apa juga mahal. Kalau panen, harganya murah,” pungkasnya. *)

Tonton videonya:

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *