HUT Lalu Lintas ke-66, Tunawisma di Jombang Divaksin dan Dapat Sembako

  • Bagikan
Kapolres Jombang memberikan sembako ke tunawisma
Kapolres Jombang, AKBP Agung Setyo Nugroho, memberikan sembako ke sejumlah tunawisma yang sudah divaksin Covid-19, Kamis (23/9/2021),

FaktaJombang.com – Vaksinasi Covid-19 terus digalakkan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kali ini, yakni Kamis (23/9/2021), vaksinasi menyasar para tunawisma alias warga yang tidak memiliki tempat tinggal.

Vaksinasi yang dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Jombang ini dalam rangka memperingati Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-66.

Menurut Kapolres Jombang, AKBP Agung Setyo Nugroho, kalangan tunawisma merupakan bagian sasaran komunitas yang memang belum terfasilitasi vaksinasi. Dikatakannya, tunawisma juga sangat terdampak pandemi yang sudah berlangsung lebih dari satu setengah tahun tersebut.

“Tunawisma sangat terdampak Covid-19 secara ekonomi. Makanya kami menggandeng Pemerintah Daerah untuk memberikan bantuan, selain memperhatikan kesehatannya,” ungkap Agung Setyo Nugroho.

Kegiatan vaksinasi ini, lanjutnya, merupakan ikhtiar Polri membantu pemerintah dalam rangka mempercepat pembentukan herd immunity atau kekebalan kelompok di wilayah Kabupaten Jombang.

“Ini merupakan upaya kita agar seluruh lapisan masyarakat Jombang bisa memperoleh vaksinasi Covid-19 untuk memperkuat imun tubuhnya,” katanya.

Selain vaksinasi, pihaknya juga menyalurkan bantuan sosial berupa sembako kepada para tunawisma untuk meringankan kebutuhannya sehari hari.

“Setelah mereka divaksin, kita juga berikan bantuan sembako untuk meringankan beban mereka,” lanjutnya.

Sementara itu, Bupati Jombang, Mundjidah Wahab menyatakan, hingga saat ini, capaian vaksinasi dosis satu sudah mencapai 70 persen.

“Untuk vaksinasi dosis dua, mencapai 49 persen. Saat ini, Jombang sudah masuk PPKM level 1,” katanya.

Untuk capaian vaksinasi bagi lansia (lanjut usia) di Kabupaten Jombang, baru mencapai 47,1 persen dari jumlah keseluruhan lansia yang menjadi sasaran vaksin Covid-19.

Capaian 47,1 persen, lanjutnya, masih terbilang rendah dari target minimal 60 persen. Salah satu faktor penyababnya, kata Mundjidah Wahab, yakni masih banyak para lansia yang khawatir terhadap penyakit yang dideritanya atau komorbid.

“Mereka belum faham kalau sebelum divaksin itu ada pemeriksaan. Mereka lebih dulu khawatir terhadap penyakitnya. Jadi, nanti akan ada tracing serta diberikan pemahaman, baru setelah itu divaksin,” paparnya. *)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *