Ibu Ini Demo Tunggal di Bumiputera Jombang, Tuntut Pencairan Klaim Asuransi

  • Bagikan
salah satu nasabah demo di kancab Bumiputera Jombang
Fitria Cahyarani (40) warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menggelar demo tunggal di pelataran Kantor Cabang (Kancab) AJB Bumiputera Jombang, Senin (24/5/2021).

FaktaJombang.com – Fitria Cahyarani (40) warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menggelar demonstrasi tunggal atau seorang diri di pelataran Kantor Cabang (Kancab) AJB Bumiputera Jombang, Jalan KH Wahid Hasyim, Jombang, Senin (24/5/2021).

Dalam aksinya, ibu rumah tangga ini menutup mulutnya dengan lakban hitam. Sejumlah kertas atau berkas miliknya, dia letakkan di halaman berpaving itu. Dia juga mengalungkan poster berbunyi ‘Saya Korban AJB Bumiputera’ di lehernya. Juga beberapa poster berisi tuntutan yang ditujukan kepada AJB Bumiputera Jombang.

Dalam aksinya ini, dia menunjut, uang klaim asuransinya sebesar Rp 120 juta, segera dibayarkan. “Tuntutannya simpel, bayaren duitku, hakku. Titik,” tandas ibu empat anak ini.

Ia merinci, dana Rp 120 juta tersebut yakni Asuransi Beasiswa Berencana sebesar Rp 70 juta. Klaim asuransi atas nama anaknya ini seharusnya dia terima pada 1 Juni 2020 lalu.

Sisanya, Asuransi Dwiguna Prima sejumlah Rp 50 Juta atas nama suaminya yang seharusnya dia terima pada 1 Juni 2018 silam.

Dijelaskan, dia mengikuti 2 program asuransi. Satu polis untuk program Beasiswa berencana sejak 17 tahun dan berakhir tahun 2020. Setiap tiga bulan, dia harus membayar polisi asuransi beasiswa ini sejumlah Rp 1 juta.

Sedangkan satu polisi lagi, bernama program asuransi Dwiguna Pima yang diikutinya selama 15 tahun dan berakhir tahun 2018. Dia pun harus membayar tiap 3 bulan sekali sebesar Rp 600 ribu.

Fitria mengaku, planing keuangan rumah tangganya berantakan karena klaim asuransinya belum dibayarkan. Juga pada biaya pendidikan anaknya yang diikutkan pada asuransi beasiswa itu. Bahkan, lanjut dia, anak pertamanya kini tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Harusnya. anak saya kuliah semester dua. Tapi nggak kuliah karena klaim asuransi tidak dibayarkan. Malah anak saya kini bekerja sebagai kuli sekarang. Di belakangnya, ada adiknya kelas 2 SMA, kelas 1 SMA. Kelas 1 SMP. Dan saat ini, SPP ketiga anakku masih menunggak, dan ini bisa dicek. Besok saya harus ke sekolah untuk tanda tangan pengunduran pembayaran,” ungkapnya.

Dikatakannya, beberapa upaya agar klaim asuransinya dibayarkan, ia tempuh. Mulai menagih ke Kancab Bumiputera setempat, bersurat ke Kanwil (kantor wilayah) dan OJK (otoritas jasa keuangan), hingga melaporkan magajemen pusat ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur.

“Kalau mereka di sini menjawabnya hanya petugas. Yang berhak menentukan adalah manajemen pusat. Makanya saya mengajukan pelaporan ke Polda Jatim. Dan yang bertanda tangan di polis juga manajemen pusat,” papar Fitria.

Sejauh ini, lanjutnya, alasan klaim asuransinya belum dibayarkan karena masih menunggu antrean. Dia menyebut, dulu kesepakatannya uang bisa diterima lewat rekening setelah 14 hari kerja sejak tanggal klaim asuransi tersebut.

“Tapi sat saya mengajukan klaim pada 2018 lalu, sudah nggak bisa. Saya tahunya dari Media Sosial jika Bumiputera mengalami kesulitan keuangan. Tapi sampai sekarang tidak ada keterangan resmi dari pihak Bumiputera apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Fitria.

“Sejak itu, kami hanya disuruh bersabar. Kami juga diberi aplikasi antrean. Dan di aplikasi antrean itu, selama 2 tahun terakhir tidak bergerak sama sekali,” sambungnya.

Sebagai nasabah, kata Fitria, dirinya berhak menerima klaim asuransi yang diikutinya. Dia akan tetap menagih jika klaim tersebut masih belum dibayarkan pihak Bumiputera. Bahkan, demo seorang diri ini, akan dia lakukan hingga tanggal 28 Mei 2021 selama jam kerja.

“Karena masih pandemi, negosiasi dengan Polres, kami diijinkan sampai pukul 15.00 WIB. Tiap hari saya akan datang ke sini sampai 28 Mei mendatang, selama jam kerja,” katanya.

Aksi demonstrasi tunggalnya ini, sambung Fitria, merupakan atas nama pribadi. Meski senyampang dia ketahui, warga yang senasib dengannya di Jombang lebih dari 1000-an orang.

“Nasabah di Jombang 1000-an lebih. Semuanya sama persis. Dan saya adalah satu orang dari banyak korban asuransi ini. Kalau sampai batas waktu 1 Juni 2021 besok belum ada kejelasan, sebagian besar nasabah yang korban, akan menduduki Kancab Bumiputera di Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Kancab AJB Bumiputera Jombang, Suprianto mengatakan, tuntutan dari nasabah seluruhnya sudah dilaporkan ke kantor pusat. Ia menyebut, tidak memiliki kewenangan dalam menjawab tuntutan Fitria Cahyarani.

“Kami memaklumi para nasabah melakukan aksi. Kami sendiri sudah menjalankan SOP sesuai kewenangan kami. Ini sudah sampai di pusat. Kita sama-sama menunggu saja. Kalau klaim tidak cair, itu bukan kewenangan saya. Saya terbatas oleh SOP, mohon maaf,” ungkapnya. *)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *