Janda Tua di Kwaron Jombang, Tinggal Sendirian di Rumahnya yang Sudah Terjual

  • Bagikan
mbah Nur Cholifah Kwaron Jombang 1
Mbah Nur Cholifah, warga Dusun Blimbing, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, saat berada di dapurnya.

FaktaJombang.com – Kehidupan nestapa, dialami Nur Cholifah, warga Dusun Blimbing, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Ia tinggal di sebuah rumah yang berlokasi di lingkungan RT 04 RW 02 desa setempat.

Namun, bagian dalam rumah yang ditinggali wanita berusia 65 tahun-an ini, semrawut alias tak tertata rapi. Maklum saja, ia tinggal sendirian di rumah berukuran 5 x 17 meter itu. Suami dan anak-anaknya sudah lebih dulu meninggalkannya untuk selamanya.

“Hanya cucu. Itu pun tinggal di sana,” katanya seraya menunjuk arah barat kepada FaktaJombang.com, Rabu (11/3/2021) sore.

Di ruang tengah, terdapat televisi yang saat itu tidak menyala. Hanya suara deru kipas angin yang terdengar. Berhadapan dengan televisi, ada kasur dan bantal. Posisinya tanpa dipan alias beralas lantai semen.

Sedangkan di sebelahnya agak ke belakang, ada sebuah meja yang di atasnya tergeletak sejumlah perotan rumah tangga, seperti piring dan lainnya.

“Maaf, kondisinya begini. Kocar-kacir,” lanjutnya. Ia mengaku baru saja selesai menyiapkan tasyakuran isra mikraj.

Bagian belakang rumah, terdapat ruang dapur. Terpantau pawonan (tempat memasak tradisional dari bata dan tanah liat) yang apinya sudah dipadamkan. Di samping pawonan, ruangan kamar mandi.

Kondisi bagian dalam rumah mbah Nur Cholifah ini terasa lembab. Bahkan, temboknya terasa teraliri arus listrik. Ternyata, rumahnya lembab gegara atapnya. Sejumlah genting di beberapa titik sudah tidak tertata alias melorot, sehingga kala hujan, air gampang masuk.

Sedangkan plafon rumah, terbuat dari gedek atau anyaman bambu. Namun, kondisinya sudah banyak berlubang dan rusak di sejumlah titik. Bahkan, sobekan plafon anyaman itu, menggelantung.

“Saya tidak bisa membenahinya. Nggak ada biaya,” ujarnya.

Dilihat dari luar, tembok bagian belakang sudah retak cukup parah. Sementara wuwung (genting atas), tampak dilampisi plastik dan sobekan terpal. Dimungkinkan, langkah ini untuk mengurangi tingkat kebocoran.

Sayangnya, rumah yang ditinggali Nur Cholifah ini, kini statusnya sudah bukan miliknya. Ia menjual rumah yang sebelumnya merupakan hasil kerja kerasnya bersama suaminya itu, lantaran untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, si pembeli rumah, katanya, memperbolehkan rumah tersebut dia tinggali hingga akhir hayatnya.

“Rumah ini sudah saya jual. Uangnya untuk makan. Tapi saya diperbolehkan tinggal di sini, selama saya hidup,” papar mbah Nur Kholifah.

Disinggung bantuan yang diterima, Mbah Nur Cholifah mengaku mendapatkan sembako. Ia tidak mengerti soal program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) apakah lainnya. “Saya dapat bantuan beras, daging ayam, kentang, kadang ada brambangnya,” tuturnya.

Untuk bantuan lain, ia menjawab pernah mendapatkan bantuan pembangunan MCK (mandi cuci kakus). Namun, ia mengaku lupa kepastian tahun berapa bantuan tersebut.

“Pernah dapat, dibangun MCK. Saya ikut rapat di balai desa, katanya senilai Rp 3,5 juta. Kalau tahun berapa, seingat saya 5 besaran (lebaran) nanti ini,” pungkasnya. (nas/fj)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *