Kisah Relawan Penjaga Rel KA Tanpa Palang Pintu, Mulai Diremehkan Hingga Diajak Duel

  • Bagikan
perlintasan pasar pon jombang 1
Perlintasan rel KA jalur ganda dekat Pasar Pon, Jombang.

FaktaJombang.com – Menghabiskan waktu menjadi relawan penjaga perlintasan rel kereta api (KA) jalur ganda tanpa palang pintu, bukan tidak lepas dari anggapan miring dari sebagian pengguna jalan. Bahkan, mereka pun tak jarang menjadi sasaran perkataan kasar.

Sebanyak 7 relawan dari 10 titik perlintasan KA tanpa palang pintu mulai Stasiun Sumobito hingga Desa Jabon, Kecamatan/Kabupaten Jombang, rata-rata mereka mengaku, pekerjaannya dianggap sebelah mata. Bahkan dinilai merupakan cermin dari orang pemalas. (baca: Waspada, Ini 10 Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang Pintu di Jombang)

“Saya menjaga di sini pernah dinilai karena malas bekerja. Ya begitulah, masing-masing orang punya penilaian sendiri. Nggak apa,” kata Ihwan (48) relawan perlintasan KA Desa Jabon, Kecamatan Jombang, yang juga Ketua RT setempat ini kepada FaktaJombang.com

“Ya dinilai miring itu biasa. Karena semua ada risikonya. Yang penting, saya ingin tidak ada kecelakaan di perlintasan kereta api,” ujar Marsum (46), relawan perlintasan KA ujung barat Jalan KH Romli Tamim atau dekat Pasar Pon.

Padahal, niat mereka mengabdikan diri sebagai relawan, bukan semata-mata mengejar uang sebagai imbalan jasanya. Jangankan meminta, besaran uang tidak pernah mereka pikirkan jika diberi oleh pengguna jalan.

Lebih sekedar itu, mereka rata-rata tidak menginginkan tingkat kecelakaan kereta api di perlintasan tanpa palang pintu di Kabupaten Jombang, tinggi.

“Kalau soal ngasih uang jasa atau tidak, nggak jadi masalah. Diberi berapa pun kita terima, nggak diberi juga nggak apa-apa. Namanya juga relawan, nggak ada paksaan,” sambung Ihwan.

Hal senada juga disampaikan Marsum, Poniran (60) relawan penjaga perlintasan Desa Segodorejo, Tomo (70) relawan penjaga Desa Mlaras, Wagiono (55) penjaga perlintasan Desa Sumbermulyo, dan Budi Santoso (39) penjaga perlintasan di Dusun Gondekan Desa Jabon. Mereka menegaskan, tidak pernah meminta imbalan. Namun, mereka mengucapkan syukur dan berterima kasih jika ada yang memberinya dengan ikhlas.

“Jangankan meminta uang. Kami disapa atau berterima kasih saja, sudah lega. Kalau ada yang memberi dengan sukarela atau ikhlas, kami tambah bersyukur. Saya menganggap ini kemanusiaan,” kata Wagiono.

Sedangkan Indah, satu-satunya penjaga perlintasan perempuan di Desa Keplaksari juga mengatakan, tidak ada paksaan soal imbalan atau besarannya. Meski dirinya mengaku, sangat membutuhkan uang untuk menyambung hidup dirinya bersama dua anaknya.

“Memang saya butuh uang untuk makan bersama anak-anak saya. Karena tidak ada lagi yang mencarikan nafkah. Tapi, saya nggak pernah memaksa. Diberi syukur, nggak diberi imbalan juga nggak apa-apa,” paparnya.

Harus Sabar dan Bermental Baja

Selain dipandang sebelah mata atau dinilai remeh, menjadi relawan penjaga perlintasan kereta api (KA) haruslah bermental sekuat baja. Ketujuh relawan tersebut, tak jarang disuguhi arogansi pengguna jalan saat diingatkan ada kereta api hendak melintas.

Mereka juga rata-rata menyadari tidak memiliki otoritas untuk memberi tindakan atau bahkan sanksi tegas kepada pengguna jalan yang nekat merobos. Mereka menilai, tugasnya hanyalah bersifat kemanusiaan yang hanya mengingatkan pengguna jalan ketika kereta api hendak lewat.

“Ya ada saja yang mokong menerobos perlintasan. Padahal saya sudah menghadang. Katanya, kereta masih jauh kok sudah distop,” kata Poniran.

“Ow, kalau itu ada saja yang membandel merobos. Ya saya biarkan, yang penting saya sudah mengingatkan,” tutur Tomo menceritakan pengalamannya.

“Kalau saya lagi berjaga di sini dan ada yang merobos, ya saya sindir saja. Nyawa sampean apa rangkep (ganda), gitu,” kata Ihwan.

“Saya pernah dipesani, yang penting kamu sudah mengingatkan. Kalau ada yang menerobos, risiko ditanggung sendiri. Utamakan keselamatanmu juga,” kata Budi menceritakan pesan yang menurutnya dari salah satu petugas PT KAI.

Sementara Marsum, menceritakan pengalaman pahitnya. Pria yang pernah tinggal di Jombang Kota ini mengatakan, sempat diajak duel oleh pengguna jalan. Hanya gegara diingatkan agar tidak melintas karena kereta api mau melintas.

“Pernah saya diajak berkelahi. Ya karena saya stop, kan kereta api mau lewat. Saya hanya bersabar dan diam saja. Kan rugi, kita kalah atau menang berkelahi, pasti berurusan dengan pihak berwajib,” ceritanya.

Marsum juga menceritakan pengalaman lucu karena ulahnya menyodorkan dua jarinya. Suatu waktu, kata dia, ada dua kereta api hendak melintas di jalur ganda dari arah berbeda. Karena ada dua kereta, dia pun mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya, memberi isyarat pengguna jalan agar lebih mundur.

“Saya beri isyarat dengan dua jari. Lha, namanya pengguna jalan nggak ngerti, mungkin saya dinilai bertingkah aneh. Karena dua jari itu seperti isyarat peace. Padahal, ada dua kereta,” ceritanya sambil tertawa.

perlintasan KA Sumbermulyo Jombang
Wagiono saat menghalau pengguna jalan di perlintasan KA tanpa pang pintu Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang.

Mengerti Rambu-rambu Kereta Api

Menjadi relawan penjaga rel KA jalur ganda tanpa palang pintu, rupanya tak semudah dibayangkan khalayak. Rata-rata dari mereka mengaku, minimal bermodal pengetahun arti rambu-rambu yang sudah terpasang.

Selain itu, keputusan menyetop pengguna jalan di saat kereta api yang mau melintas itu berada di titik mana. Karena laju kereta api sangat cepat.

Dikatakan Wagiono, relawan perlintasan Desa Sumbermulyo Kecamatan Jogoroto, jika lamban memutuskan untuk menyetop pengguna jalan, akan sangat berbahaya bagi keselamatan pengguna jalan. Salah satunya, mesin motor atau mobil akan mati karena getaran kereta api. Rel kereta api, mengandung gaya elektrostatis yang bisa mengganggu kerja komponen mesin mobil.

“Kalau lampu rambu-rambu itu berwarna hijau, berarti ada kereta mau lewat. Nah, tinggal memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menyetop pengguna jalan,” katanya.

Sedangkan Marsum bercerita, sempat mendapat teguran dari pihak Stasiun Jombang, agar menggunakan bendera hijau saat menjaga perlintasan kereta api jalur ganda tanpa palang pintu.

“Karena ini merupakan salah satu tanda, ya akhirnya saya pakai bendera hijau. Dari penjelasan-penjelasan petugas, akhirnya saya sedikit banyak tahu soal rambu-rambu perkereta apian,” ucap penjaga perlintasan dekat Pasar Pon Jombang ini.

Para relawan penjaga perlintasan KA tanpa palang pintu ini juga rata-rata mengaku kesulitan, jika ada dua kereta api melintas dari arah berlawanan.

“Sulitnya menyetop di seberang kita. Ya cara satu-satunya, menyetop pengguna jalan dengan teriakan sekencang-kencangnya,” kata Ihwan. (nas/fj)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *