Minyak Goreng Mahal, Pengusaha Kerupuk di Segodorejo Jombang Libur Produksi

Krecek menumpuk di tempat usaha salah satu pengusaha krupuk di Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, karena berhenti menggoreng disebabkan minyak goreng mahal dan langka.

FaktaJombang.com – Sejumlah pengusaha kerupuk di Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terpaksa berhenti menggoreng. Ini menyusul harga minyak goreng langka dan kalau pun ada, harganya melambung tinggi, Senin (21/3/2022).

Mereka memutuskan berhenti menggoreng kerupuk, terhitung sudah 4 hari yang lalu. Praktis, ratusan karyawan dari 7 pengusaha kerupuk di desa setempat, juga diliburkan. Selain itu, stok krecek yang dimilikinya masih menumpuk.

Salah satu pengusaha kerupuk di desa setempat, Yeti Asri Astutik membenarkan kalau dirinya sudah 4 hari ini libur menggoreng dan memproduksi krupuk. Selain dirinya, pengusaha lain yang masih tetangga di desanya, juga libur produksi.

“Bahkan, ada yang libur menggoreng lebih dari 4 hari. Ya terpaksa, karena harga minyak goreng naik tinggi,” katanya, saat ditemui di tempat produksi krupuknya.

Dikatakannya, ada 7 pengusaha kerupuk di Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang ini, dengan jumlah kapasitas produksi beragam.

Sementara usaha milik Yeti ini, mampu memproduksi tujuh kwintal per hari. Sedangkan kebutuhan minyak goreng dengan kapasitas produksi segitu, kata Yeti, sebanyak 4 kwintal minyak goreng per hari.

“Kalau harga minyak goreng curah tinggi seperti sekarang yang mencapai Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu per liter, terasa berat bagi kami,” paparnya.

Yeti Asri Astutik, salah satu pelaku usaha kerupuk di Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.

Yeti Asri juga mengatakan, sempat menyiasati produksi dalam beberapa pekan terakhir. Yakni mengurangi kapasitas produksi hingga 50 persen. Harapannya, agar karyawannya tidak sampai libur bekerja.

“Waktu itu, agar tetap bisa menggoreng, kami membeli minyak goreng kemasan seharga Rp 24 ribu, karena minyak curah langka. Tapi tetap saja merugi,” ujar Yeti.

Hingga kemudian, dia memutuskan untuk berhenti produksi dan meliburkan 75 karyawannya. Yeti menuturkan, akan kembali memproduksi kerupuk, bila harga minyak goreng sudah kembali normal.

“Terpaksa kami meliburkan karyawan. Di sini ada 25 pekerja di bagian produksi bahan kerupuk dan 50 orang di bagian penggorengan. Kalau jenis kerupuknya, ada uyel, lempeng, lapindo, bibir,” jelasnya.

Sebagai pelaku usaha terdampak, dirinya berharap keseriusan pemerintah dalam menormalkan kembali harga minyak goreng seperti sedia kala. Pasalnya, home industry kerupuk merupakan jenis usaha padat karya dan kerupuk menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Ya kami harap, harga minyak goreng kembali normal. Agar kami bisa kembali memproduksi kerupuk,” pungkas pemilik usaha kerupuk paling lama di antara 7 pengusaha kerupuk di desa setempat ini. *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.