Miris, Jalan Poros Turipinggir Jombang Bak Pematang Sawah

  • Bagikan
jalan poros desa turipinggir megaluh jombang
Kondisi jalan poros desa Turipinggir, penghubung Kecamatan Megaluh dengan Kecamatan Jombang, yang berlumpur dan dipenuhi rumput.

FaktaJombang.com – Tidak salah jika jalan penghubung antara Kecamatan Megaluh dengan Kecamatan/ Kabupaten Jombang ini, dikira pematang sawah atau galengan. Karena sama-sama ditumbuhi rumput liar di sana-sini.

Bedanya, kalau pematang sawah hanya setapak, sementara jalan ini cukup lebar. Dan lagi di kanan kiri jalan ini, masih terdapat tembok penahan tanah (TPT) sebagai penguat jalan dan pembatas dengan parit atau saluran irigasi. Meski TPT tersebut, sebagian sudah ada yang putus.

Usut punya usut, jalan ini merupakan poros desa. Terletak di Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Jika musim hujan, dipastikan kondisi jalan ini berlumpur laiknya sawah di sekitar jalanan tersebut. Bahkan, ada titik jalan yang nyaris putus.

“Sekitar sudah 35 tahun, jalan ini tak tersentuh perbaikan,” kata Amad (45) seorang warga sekitar sehabis dari sawahnya, Minggu (31/1/2021).

Ia mengatakan, kegunaan jalan poros ini menurun kala kondisinya berlumpur usai diguyur hujan. Sejumlah pengguna jalan, lebih memilih jalan lain ketimbang lewat jalan poros desa itu. Alasannya, khawatir terjerembab jalanan berlumpur.

“Ya lebih baik memutar milih jalan lain. Lha di sini kondisi begitu. Berlumpur kalau musim hujan,” katanya.

Amad hanya berharap jalanan tersebut segera diperbaiki. “Kan ini fasilitas umum. Seharusnya dibenahi untuk kepentingan bersama,” pungkasnya.

Kepala Desa (Kades) Turipinggir, Gunasir Wibowo membenarkan, sekitar 35 tahun jalanan tersebut tidak tersentuh pembangunan. Dikatakannya, Pemdes setempat tidak melakukan perbaikan jalan tersebut, karena bukan wewenangnya.

“Karena itu jalan poros desa, kita tidak memiliki wewenang,” katanya.

Kades Gunasir juga mengatakan, jalan tersebut sejatinya sangatlah diharapkan warganya untuk diperbaiki. Menurutnya, beberapa kali diusulkan melalui Musrenbang (Musyawarat Rencana Pembangunan) tingkat Kecamatan, masih belum terealisasi.

Ia juga membenarkan, warga memilih menggunakan jalan lain jika kondisinya usai diguyur hujan. Belum lagi, lanjutnya, petani setempat kesulitan mengangkut hasil panennya saat jalanan berlumpur.

“Karena kendaraan angkutannya menolak lewat jalan itu. Takut terjepak lumpur. Akhirnya petani menambah biaya jasa angkut, agar hasil sawahnya bisa diangkut kendaraan,” ujar Kades Gunasir Wibowo.

“Harapan kami, ya usulan perbaikan jalan poros desa tersebut terealisasi. Karena sangat berpengaruh ke masyarakat,” pungkasnya. (gh/af)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *