Pemanfaatan Metode Muhadatsah dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Arab

muhadatsah bahasa arab
Metode Muhadatsah dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Arab.

Oleh: Intan Hafizatuz Zahrah
(mahasiswi UIN Jakarta prodi Pendidikan Bahasa Arab asal Lamongan)

Bahasa terbesar dengan akar kebahasaan yang kuat. Bahasa arab memiliki 16 ribu akar kata Bahasa Arab dan telah melahirkan jutaan kosakata. Dalam kitab Al-Mufashal fi Tarikh Al-Arab Qabl Al-Islam, disebutkan bahwa jumlah kosa kata Bahasa Arab mencapai 12,3 juta kosakata.

Beberapa Kata Bahasa Inggris berasal dari Bahasa Arab. kurang lebih terdapat ratusan kata dalam Bahasa Inggris yang diadopsi dari Bahasa Arab. Bahkan, sistem nomor yang kita gunakan saat ini dulu diperkenalkan ke Eropa oleh pedagang Arab.

Bahasa Arab merupakan bahasa internasional. Bahasa Arab juga dinobatkan sebagai bahasa yang sulit karena huruf-hurufnya. Bagi masyarakat indonesia yang mayoritas penganut agama Islam, pastinya tidak asing lagi dengan bahasa ini. Karena bahasa ini pasti memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal lain yang pasti kita ketahui yakni sumber agama Islam yang tak lain dan tak bukan adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menggunakan bahasa Arab. Pun dengan rujukan lainnya seperti Qiyas, Ijtihad, dan Ijma’.

Lalu, mari kita renungi bacaan salat kita. Pastinya bacaan salat kita seluruhnya menggunakan bahasa Arab. Maka hal ini, agama Islam dan bahasa Arab, ibarat dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan Al-Qur’an dan agama Islam pun turun di negeri Arab dan Rasul juga orang Arab. Sehingga pemerintah dan masyarakat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap bahasa Arab.

Di antaranya, bahasa Arab menjadi mata pelajaran pokok di setiap jenjang pendidikan terutama yang berlabelkan Islam. Pemerintah juga menjalin kerja sama dengan Arab dalam hal mengembangkan pendidikan seperti beasiswa ke luar negeri dan pertukaran pelajar.

Dalam era modern ini, kita banyak menjumpai lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab dalam pengajarannya. Seperti sekolah Islam Terpadu atau juga pondok pesantren (Ponpes). Yang dalam kehidupan sehari-harinya berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab menjadi penting karena bahasa ini memiliki peran signifikan dalam agama Islam, ilmu pengetahuan, dan budaya Arab.

Bagi pembelajar bahasa Arab, memahami dan menguasai kosakata merupakan langkah awal yang sangat penting. Karena pembelajaran bahasa Arab tidak hanya melibatkan pemahaman tata bahasa, tetapi juga kosakata.

Dalam konteks pembelajaran kosakata Bahasa Arab, metode Muhadatsah menjadi salah satu pendekatan yang efektif dan inovatif. Metode ini memungkinkan pembelajar untuk menguasai kosakata dengan lebih mudah dan menyenangkan

Metode Muhadatsah merupakan metode pembelajaran yang berfokus pada komunikasi lisan. Kata “Muhadatsah” berasal dari bahasa Arab yaitu mashdar dari حَادَثَ – يُحَادِثُ – مُحَادَثَةً yang artinya percakapan. Metode ini menekankan penggunaan bahasa dalam konteks percakapan sehari-hari, dengan tujuan agar pembelajar mampu berkomunikasi secara efektif. Dalam pembelajaran kosakata, metode Muhadatsah membawa konsep-konsep kosakata ke dalam situasi nyata, sehingga memudahkan pemahaman dan pengingatan. Berikut adalah langkah-langkah dalam menggunakan metode muhadatsah :

Pertama, pemilihan konteks komunikasi. Dalam metode muhadatsah, pemilihan konteks komunikasi menjadi langkah awal yang penting. Pembelajar akan lebih mudah mengingat kosakata jika dipelajari dalam situuasi atau konteks tertentu, misalnya dalam percakapan sehari-hari, berbelanja, atau berpergian. Biasanya pengajar akan memberi beberapa kosakata kepada pembelajar. Katakanlah tiga. Dari kosakata tersebut, pengajar akan menyebutkannya dan diikuti oleh para pembelajar dengan intonasi yang sama pula. Untuk lebih memudahkan, pengajar dapat memberikan kosakata dengan tema tertentu pada setiap pertemuannya. Misalnya aktivitas dirumah, tentang sekolah, berbelanja, atau tempat umum. Contoh tentang sekolah, مَدْرَسَةٌ yang artinya sekolah. Dari kosakata tersebut pengajar akan menyebutkannya beberapa kali dan diikuti pula oleh para pembelajar.

Kedua, pembelajaran berbasis dialog. Setelah pembelajar mendapatkan kosakata dari pengajar, langkah selanjutnya adalah menerapkannya pada dialog atau menjadikan kosakata tadi kedalam sebuah kalimat. Dialog digunakan sebagai sarana uatama dalam metode muhadatsah. Pembelajar diajak untuk berpartisipasi dalam dialog, baik sebagai pembicara maupun pendengar. Melalui dialog, pembelajar dapat memahami pengguanaan kosakata dalam kalimat dan konteks yang lebih luas.

Ketiga, latihan berbicara berpasangan atau kelompok. Metode ini mendorong pembelajar untuk berinteraksi langsung dengan sesama pembelajar. Dalam latihan ini, mereka dapat saling bertukar informasi, berdiskusi, atau bahkan berdebat menggunakan kosakata yang telah dipelajari. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri pembelajar dalam menggunakan kosakata secara aktif .

Keempat, penggunaan media pembelajaran interaktif. Metode muhadatsah dapat diperkaya dengan penggunaan media pembelajaran interaktif, seperti audio, video, atau simulasi percakapan. Hal ini dapat membantu pembelajar memahami pengucapan, intonasi, dan ekpresi wajah yang terkait dengan kosakata yang dipelajari.

Lalu ada juga metode yang popular digunakan di negara Timur Tengah dalam mempelajari kosakata bahasa arab, di antaranya:

Pertama, belajar melalui Al-Quran. Al-Quran adalah teks utama dalam bahasa arab, dan banyak orang Timur Tengah memulai pembelajaran bahasa arab mereka dengan memahami teks-teks Al-Quran. Ini melibatkan membaca dan memahami ayat-ayat Al-Quran untuk memperluas kosakata.

Kedua, pembelajaran melalui Hadits. Hadits (ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad) juga menjadi sumber penting dalam pembelajaran bahasa Arab di Timur Tengah. Studi hadits melibatkan memahami konteks historis dan menggali makna kata-kata Arab yang digunakan dalam hadits

Ketiga, pembelajaran melalui literatur klasik. Banyak orang belajar bahasa Arab dengan membaca karya sastra klasik Arab. Karya-karya seperti “Alf Layla wa Layla” (seribu satu malam) dan puisi-puisi klasik membantu memperkaya kosakata dan memahami struktur kalimat.

Keempat, pembelajaran melalui lagu dan musik. Beberapa orang juga belajar bahasa arab dengan mendengarkan lagu-lagu arab dan memamhami liriknya. Ini membantu memperkaya kosakata dan melibatkan pendengaran aktif, atau yang biasa kita kenal dengan metode sima’i.

Kelima, bergaul dengan penutur asli. Interaksi dengan penutur asli bahasa arab dapat sangat membantu dalam memahami dan mempelajari kosakata arab secara kontekstual. Melalui percakapan sehari-hari atau praktek dalam situasi kehidupan nyata, seseorang dapat memperluas kosakata dengan cepat.

Metode-metode yang diterapkan di Timur Tengah sebenarnya sama saja dengan yang diterapkan di Indonesia. Hanya saja, beberapa metode di Timur Tengah dirasa tidak cocok jika diterapkan di Indonesia. Seperti belajar melalui Al-Quran dan melalui Hadits. Karena biasanya pembelajar di Timur Tengah belajar langsung pada seorang Syaikh. Sedangkan di Indonesia tidak ada seorang Syaikh. Begitupun dengan metode bergaul dengan penutur asli. Yakni berinteraksi atau berkomunikasi dengan penutur bahasa arab langsung. Di Indonesia sangat sedikit bahkan jarang adanya orang penutur Arab asli.

Pemanfaatan metode muhadatsah dalam pembelajaran kosakata bahasa arab memiliki sejumlah manfaat. Di antaranya, metode ini memungkinkan pembelajar untuk mengembangkan kemampuan berbicara mereka dengan lebih cepat dan efektif. Dengan terlibat dalam percakapan sehari-hari, pembelajar dapat merasakan konteks penggunaan kosakata, sehingga memudahkan untuk mengingat dan menggunakan kata-kata tersebut. Dengan metode muhadatsah ini, pembelajar secara aktif terlibat dalam pembelajaran melalui percakapan, permainan, dan aktivitas kelompok, sehingga pembelajaran melalui menjadi lebih menyenangkan dan efektif.

Selain itu, metode ini juga meningkatkan kepercayaan diri pembelajar dalam berkomunikasi menggunakan bahasa arab. Dengan terlibat dalam berbagai kegiatan percakapan, pembelajar menjadi lebih nyaman dan percaya diri dalam menggunakan bahasa Arab.

Meskipun metode muhadatsah memiliki banyak manfaat, tetapi ada beberapa pantangan yang mungkin dihadapi dalam penerapannya. Salah satunya adalah kesulitan dalam menemukan materi yang sesuai untuk pembelajaran. Pengajar perlu mencari atau menciptakan percakapan yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan pembelajar.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan waktu. Pembelajaran percakapan membutuhkan waktu yang cukup, dan pengajar perlu merencanakan dengan baik agar dapat mengintegrasikan metode ini kedalam kurikulum tanpa mengorbankan materi lainnya. Penerapan metode ini membutuhkan fasilitator (pengajar) yang memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa arab dan metode muhadatsah. Pelatihan bagi para pengajar dapat menjadi langkah yang diperlukan. Dan yang pasti, tantangan buat pengajar adalah ia diharuskan untuk selalu ceria, memiliki banyak ide, atau memiliki keterampilan dalam menciptakan situasi-situasi pembelajaran yang nyata dan mendukung perkembangan kosakata pembelajar. Karena tidak semua pembelajar memiliki tingkat keterlibatan yang sama dalam proses pembelajaran. Pengajar perlu menciptakan strategi untuk memotivasi setiap pembelajar.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan metode muhadatsah dalam pembelajaran kosakata bahasa arab memberikan pendekatan yang relevan dan praktis. Melalui fokus pada percakapan sehari-hari, pembelajar dapat lebih efektif menguasai kosakata dan kemampuan berbicara dalam bahasa Arab. Meskipun memiliki tantangan tersendiri, manfaat yang diberikan oleh metode ini sejalan dengan tujuan pembelajaran bahasa yanng lebih berorientasi pada kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan sumber daya dan fasilitator yang kompeten, penerapan metode muhadatsah dapat menjadi langkah positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran kosakata bahasa Arab. (*)

Penulis: Intan Hafizatuz ZahrahEditor: Arief Anas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *