Pendapatan Turun, Pengrajin Bata Merah di Plandaan Jombang Tetap Bertahan

  • Bagikan
pengrajin bata merah di Plandaan Jombang
Kimen (57) salah satu pengrajin bata merah, saat ditemui di tempat produksinya, Dusun/ Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Sabtu (6/3/2021).

FaktaJombang.com – Intensitas hujan yang masih tinggi, sangat berdampak pada produktivitas para pengrajin batu bata merah. Seperti yang dialami Kimen (57) warga Dusun/ Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang.

Ia mengaku, pembuatan batu bata merah masih terkendala cuaca hujan. Karenanya, produksinya menurun drastis dibanding saat musim kemarau. Menurutnya, musim penghujan ini, ia mampu membuat 1.500 biji selama 2 bulan.

“Kalau musim kemarau kemarin, sudah 3 ribu bata hanya dalam waktu 20 hari,” katanya kepada FaktaJombang.com, Sabtu (6/3/2021).

Kimen mengatakan, pembuatan bata merah sangat bergantung pada kondisi terik matahari. Jika musim penghujan seperti saat ini, proses pengeringan membutuhkan waktu cukup lama. Selain itu, juga membutuhkan peralatan alat tambahan. Seperti terpal atau plastik berukuran besar. Hal ini sangat diperlukan, jika cuaca mendadak mendung atau tiba-tiba turun hujan.

“Kalau dipindah ke tempat teduh, kan nggak mungkin. Karena keburu hujan turun. Butuh waktu dan tenaga juga, akhirnya ditutup pakai terpal atau plastik,” ujar Kimen yang juga mengatakan pembuatan bata merahnya hanya dibantu sang istri.

Disinggung pendapatan, pria yang menekuni usaha pembuatan batu bata merah sekitar lebih 10 tahun ini menjawab, menurun drastis. Selain karena faktor cuaca, kebutuhan terhadap batu bata merah juga tidak sebanyak saat musim kemarau.

“Dilihat dari proses pengeringannya saja butuh waktu lama. Tentunya pendapatan menurun. Juga kan yang butuh bata nggak banyak seperti musim kemarau,” jawabnya.

Untuk harga, Kimen mengatakan, tergantung kualitas batu bata merah. Bata yang dibuatnya itu, hanya terdapat dua kelas dengan ukuran 5 tumpuk. Kelas wahid, dihargainya sebesar Rp 600 ribu per seribu biji. Sedangkan kelas di bawahnya, seharga Rp 450 ribu.

“Perbedaannya, kalau bata merah kelas satu itu warnanya merah kehitam-hitaman. Sedangkan yang kelas dua itu merahnya agak pudar. Bunyinya pun berbeda, lebih nyaring bata nomor satu. Bata yang saya buat ini ukuran puk-mo (5 tumpuk),” katanya.

Dikatakannya, harga batu bata tersebut paten alias tidak terpengaruh dengan kondisi cuaca, apakah saat kemarau atau hujan. Jika harga naik, lebih karena bahan baku seperti tanah liat dan kayu bakar.

“Tanah liatnya ini nggak kulakan. Saya nyari sendiri. Kalau bahan untuk pembakaran, kulakan. Itu pun tergantung barangnya ada atau nggak. Kadang kayu dicampur sekam. Tapi saat ini, banyak sekamnya,” pungkasnya. (ddy/nas)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *