Penghasilan Minim, Pengrajin Tikar Pandan di Pengampon Jombang Masih Bertahan

  • Bagikan
pengrajin tikar pandan pengampon kabuh jombang 3
Darwati, saat menganyam tikar pandan, di Desa Pengampon, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

FaktaJombang.com – Tikar berbahan pandan, banyak dijumpai dijual di emperan toko Jalan A Yani, Kecamatan/ Kabupaten Jombang. Namun, produksi kerajinan tangan ini ternyata ada di Desa Pengampon, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

Sayangnya, kini sudah tak banyak warga setempat bergelut membuat tikar pandan. Alasannya, peminat tikar pandan tidak sebanyak dulu. Selain itu, proses pembuatannya membutuhkan waktu cukup lama.

“Tiga hari baru selesai, jadi tikar pandan. Seminggu kadang cuma dapat dua, nggak mesti,” kata Mbah Nuryati (70), pengrajin tikar pandan di sela-sela kedua tangan menganyam potongan daun pandan, Selasa (9/3/2021).

Ia membenarkan, susutnya jumlah pengrajin tikar pandan di desanya. Hanya beberapa orang saja yang masih bertahan hingga saat ini, termasuk dirinya. Mbah Nuryati mengaku, menggeluti kerajinan tikar pandan ini sejak masih kecil.

“Sampai saat ini, sudah punya dua cucu,” katanya, seraya terkekeh.

Ia juga mengaku memilih bertahan mengayam pandan hingga jadi tikar, lantaran kebutuhan ekonomi. Menurutnya, kalau tikar tersebut sudah jadi. Ia biasanya langsung didatangi orang dan langsung membeli hasil karya tangannya itu.

“Hasilnya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Ketimbang utang, kan mending membuat tikar. InsyaAllah masih laku,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Darwati (50), yang juga sedari kecil sudah menggeluti dunia tikar pandan. “Kalau kerja lainnya, kerja apa ya selain ibu rumah tangga. Ketimbang menganggur,” ucap Darwaji yang duduk selonjor seraya tangannya masih tetap menganyam.

Dua perempuan ini, tampaknya sangat hafal bagian mana lebih dulu dikerjakan. Mulai menyisihkan daun pandan masih berwarna hijau yang sudah terpotong lonjoran, lalu dikeringkan di bawah terik matahari. Sedangkan daun pandan kering, juga ditatanya dan siap dianyam.

Bedanya, saat menata daun pandan masih hijau atau basah, tangan kanan keduanya memakai sarung tangan berbahan kain. “Pakai sarung tangan agar aman. Tidak terluka,” kata Darwati.

Darwati mengatakan, tikar pandan di Desa Pengampon ini dikerjakan mulai hulu hingga hilir. Daun pandannya, merupakan tanamannya sendiri. Daun pandan dipanen, lanjutnya, kemudian dipotong-potong memanjang, lalu dikerok dan dikeringkan.

Darwati juga mengakui, jika proses pembuatan tikar pandan dua tumpuk hingga jahitan, memakan waktu cukup lama. Faktornya, proses dalam menyiapkan bahan. Di mana, daun pandan harus halus.

“Daun pandan dipotong lonjoran, dikerok lalu dijemur. Lalu dikerok lagi dan dijemur lagi. Baru bisa dianyam. Kalau sudah selesai, baru dijahit,” paparnya.

Untuk harga tikar, lanjut Darwati, tergantung berapa tumpuk lembaran anyaman tikar pandan. “Kalau yang dua tumpuk dan sudah jahitan, harganya Rp 40 ribu. Kalau masih berupa lembaran, Rp 25 ribu,” rincinya.

Baik Mbah Nuryati maupun Darwati. Keduanya berharap, agar tetap bisa menjalankan usaha kerajinan tikar pandan yang selama ini digelutinya. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, juga karena kerajinan tikar pandan di Desa Pengampon, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang ini, sudah lama berjalan.

“Semoga masih banyak masyarakat yang berminat menggunakan tikar pandan ini,” harapnya memungkasi. (ddy/nas)

pengrajin tikar pandan pengampon kabuh jombang 1
Mbah Nuryati yang menyiapkan bahan yakni daun pandan masih berwarna hijau.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *