Pengikut Pangeran Diponegoro, Sang Pembabat Alas Balongsuruh Balonggemek Jombang

  • Bagikan
sejarah balongsuruh balonggemek megaluh jombang
Suasana dialog di makam mbah Trunodongso, pembabat alas Dusun Balongsuruh, Desa Balonggemek, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.

FaktaJombang.com – Nama mbah Trunodongso, dikenal sebagai pembabat alas Dusun Balongsuruh, Desa Balonggemek, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Sosok yang memiliki julukan Mbah Dhewor itu beasal dari Demak, Jawa Tengah dan disebut-sebut sebagai santri atau pengikut Pangeran Diponegoro.

Karena Pangeran Diponegoro tertangkap dan seluruh pengikutnya kocar-kacir, mbah Trunodongso pergi ke kawasan Jawa Timur, hingga menetap di sebuah tempat yang kini bernama Dusun Balongsuruh, sektiar tahun 1836.

“Waktu mbabat alas di sini, Mbah Dhewor hidup bersama istrinya,” kata Ponari, mantan Kasi Kesra Desa Balonggemek yang hingga kini akrab disapa Modin Ponari, kepada FaktaJombang.com, Jumat (30/7/2021) malam.

Mbah Dhewor atau Trunodongso berasal dari Demak, juga dibenarkan Kepala Dusun (Kasun) Balongsuruh, Joko Lelono. Hanya saja, ia menerima cerita dari bapaknya, jika mbah Dhewor merupakan prajurit Pangeran Diponegoro saat berperang melawan penjajah kolonial Belanda.

“Beliau merupakan sosok yang sakti mandraguna,” sahut Joko Lelono.

Muasal Nama Balongsuruh

Baik Modin Ponari maun Joko Lelono, mengaku tidak mengetahui secara pasti, alasan Mbah Dhewor memilih tempat -yang menurut hikayat, merupakan rawa atau semacam danau kecil atau sendang (tempat pemandian tempo dulu). Atau istilah orang dahulu adalah Balong.

Keduanya mengatakan mendapatkan cerita, jika balong yang dipilih Mbah Trunodongso ini merupakan imbas dari jebolnya tanggul sungai Brantas pada zaman Kerajaan Majapahit.

“Air sungai Brantas yang meluber dan menggenangi lokasi ini sekian lama itulah hingga disebut balong. Jumlahnya (balong) banyak,” kata Ponari diamini Joko Lelono.

Seiring berjalannya waktu, Mbah Dhewor kedatangan seorang pengelana sedang berburu burung perkutut. Pengelana yang mengaku bernama Joko Suruh itu, lanjut Modin Ponari, berburu perkutut yang terbang hingga di sekitaran tempat tinggal mbah Dhewor.

“Tapi kalau menurut cerita bapak saya dulu, Joko Suruh itu adalah kesatria berasal dari Kerajaan Majapahit. Dan sedang berburu burung perkutut,” kata Joko Lelono.

Dalam perburuannya, lanjut Kasun Joko, Joko Suruh itu sangat lama berada di kawasan Mbah Dhewor. “Kalau istirahat, ya di atas sebongkah batu. Dan hingga kini, batu itu masih ada. Atas tragedi itulah, mbah Dhewor menamakan daerah ini menjadi Balongsuruh,” katanya Joko Lelono.

Namun, menurut Modin Ponari berdasarkan cerita yang diterimanya, pengembaraan Joko Suruh hingga dia meninggal dunia di kawasan ini. Hanya saja, jasad Joko Suruh tidak dimakamkan di sekitar lokasi tersebut. Namun, dimakamkan di daerah tetangga yang kini bernama Dusun Bungkil, Desa Kedungrejo.

“Karena tragedi tidak mau mengubur jasad Joko Suruh di Balongsuruh itulah, terdapat kepercayaan jika bumi yasan (tanah garapan) digarap warga Balongsuruh, tidak keluar hasilnya. Kecuali digarap warga Bungkil. Nah, agar dua dusun ini rukun, akhirnya sepakat membuat makam untuk warga dua dusun itu. Istilahnya separuh-an,” papar Modin Ponari.

Sepeninggal Joko Suruh itulah, mbah Dhewor kemudian menamai daerahnya menjadi Balongsuruh.

Makam Pendahulu Dusun Balongsuruh

Makam Mbah Trunodongso, istri, saudara, dan anak-anaknya ini, dalam kondisi terawat. Di area makam tersebut, terdapat sebuah bangunan yang didalamnya terdapat dua makam, yakni makam mbah Trunodongso beserta istrinya.

Sedangkan di barat bangunan, juga terdapat dua makam. Yakni makam Mbah Dhito dan istrinya, mbah Mawulan. Menurut Mbah Taslim, juru kunci makam tersebut, Mbah Dhito adalah adiknya Mbah Trunodongso.

“Kalau ini (timur bangunan) makam cucu mbah Dhewor bernama Syafii. Yang di sebelah utara sana, makam mbah Pariro dan mbah Ma’un yang merupakan anaknya mbah Dhito,” rinci Mbah Tasmin.

Makam Mbah Trunodongso ini, terang Joko Lelono, sudah mengalami tiga kali pemugaran. Sebelumnya, sama seperti makam umumnya yang tidak ada bangunan apapun.

“Kemudian tahun 1973 dibuat seperti kuncup. Lalu dipugar dan dibuatkan empat tiang penyangga dilengkapi genting. Lalu dipugar lagi, menjadi bangunan seperti ini tahun 2006,” jelas Joko Lelono.

Di utara bangunan makam, terdapat bekas pohon asam berukuran besar, yang sekitar tahun 2004 lalu, roboh. Uniknya, akar pohon asam itu tidak menjalar dan merusak makam Mbah Trunodongso.

“Robohnya pada Rabu Kliwon, jam songo (sembilan), ke arah timur dan tidak mengenai bangunan makam waktu itu,” jawab Mbah Tasmin.

“Robohnya juga tidak ada angin, tidak ada hujan,” timpal Joko Lelono.

Menurut Joko Lelono, makam Mbah Trunodongso ini menjadi tempat warga setempat selametan menyambut bulan puasa Ramadan. “Kalau kita menyebut megengan. Ramai di sini. Dua tahun ini nggak ada karena pandemi virus Corona. Bahkan Kasun sebelum saya, nanggap wayangan di sini,” katanya.

Menurut mbah Tasmin, tersimpan banyak pusaka peninggalan leluhurnya ini. Seringnya, katanya, yang mendapatkan pusaka itu adalah orang luar daerah.

“Pusakanya, ada merah delima, jogorogo (pusaka untuk menjaga diri), dan pusaka semar lungguh. Paling tersohor, pusaka jogorogo,” katanya.

Tak heran, jika makam ini juga kerapkali menjadi jujugan warga yang memiliki hajat agar dikabulkan Allah SWT, seperti pekerjaan, jabatan, dan jodoh.

“Banyak yang selametan, melekan di sini. Memintanya kepada Allah SWT dengan lantaran leluhur di sini. Kalau warga sini, biasanya selametan pernikahan, sunatan, dan lainnya di sini,” pungkas Joko Lelono. *)

Tonton videonya:

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *