Tradisi Wiwitan Sambut Panen Padi, Masih Lestari di Turipinggir Jombang

  • Bagikan
tradisi wiwitan turipinggir megaluh jombang
Puluhan warga Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, saat menggelar acara tradisi Wiwitan, menjelang panen padi, Rabu (24/3/2021).

FaktaJombang.com – Warga Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Kabupatn Jombang, masih melestarikan tradisi atau budaya warisan leluhur. Seperti pada Rabu (24/3/2021) pagi tadi, petani di desa ini menggelar tradisi wiwitan. Sebuah tradisi tasyakuran menjelang panen padi,

Puluhan petani dan warga Turipinggir, tampak memadati area persawahan desa setempat. Sebelum pemotongan nasi tumpeng, acara ini diisi wejangan oleh tetua desa serta Kepala Desa (Kades). Kemudian, dipungkasi dengan pembacaan doa.

Kades Turipinggir, Gunasir Wibowo mengatakan, tradisi wiwitan di desa yang dipimpinnya ini digelar setiap kali menjelang panen. Selain melestarikan budaya nenek moyang, wiwitan ini sebagai ungkapan rasa syukur para petani kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rezeki dan kesehatan.

“Kami akan selalu menjaga tradisi semacam ini. Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Semoga ke kedepan, hasil panennya barokah,” kata Gunas Wibowo.

Gunasir Wibowo tak memungkiri, jika petani di desanya mengalami kerugian akibat biaya tanam yang mahal namun harga gabah murah. Apalagi, lanjutnya, ada pengurangan jatah pupuk bersubsidi bagi petani.

“Jujur saja, petani pada musim panen kali ini sangat merugi karena kondisi seperti itu. Petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi, hingga memutuskan membeli pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal. Harapan saya, pemerintah lebih memperhatikan nasib petani sebelum menentukan kebijakannya,” katanya kepada FaktaJombang.com.

Disinggung soal isu adanya impor beras, Gunasir mengaku sangat mengkhawatirkan nasib petani di desanya maupun desa-desa lain. Menurutnya, jika pemerintah benar-benar melakukan impor beras, tentunya berimbas pada harga gabah makin tidak stabil.

“Tentu kecewa sekali, jika memang benar impor beras. Sebab, biaya mulai tanam dan perawatan tanaman akan mahal, sedangkan harga gabah tidak sesuai harapan,” jawabnya.

Dirincinya, untuk biaya sewa lahan per 100 ru (per ru sama dengan 14 meter persegi) sebesar Rp 1,2 Juta. Sedangkan biaya pengolahan dan Rp 1,8 Juta.

“Itu belum jika diserang hama wereng atau tikus dan lainnya. Akan tambah biaya penanggulangan. Kalau sudah terserang, bisa dipastikan petani akan merugi,” papar Gunasir Wibowo.

Pihaknya sangat berharap, pemerintah bisa hadir untuk lebih memperhatikan nasib petani, sebagai garda depan ketahanan pangan nasional.

“Pemerintah tentu punya solusi untuk menekan biaya tanam yang murah namun harga hasil panen yang mengembirakan. Kalau memang pupuk subsidi dikurangi, harusnya ada solusi untuk itu,” pungkasnya. *)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *