Tragedi 11 Mei 2021, Ini Kronologi Penyegelan Rumah Istri Kiai Tersohor di Jombang

  • Bagikan
Gus Qoim ploso jombang
Gus Qoim (kanan) didampingi kuasa hukumnya, saat di Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya.

FaktaJombang.com – Insiden penggerudukan dan penyegelan rumah keluarga Ibu Endang di lingkup Ponpes Majma’al Bahroin Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang pada Selasa 11 Mei 2021, merupakan kejadian sangat mencekam dan sulit terlupakan bagi Ibu Nyai Endang beserta anak, menantunya.

Hal ini diungkapkan Qoim Liddinillah, putra ketiga dari pasangan suami istri (Pasutri) Endang Yuniati dengan Muchtar Mu’thi atau Kiai Tar, kepada FaktaJombang.com belum lama ini.

Menurutnya, penggerudukan dan penyegelan oleh sekitar 100 hingga 200-an orang tak dikenal itu, merupakan reaksi dari sejumlah orang termasuk kalangan santri yang sudah ‘teracuni’ oleh beberapa video yang tersebar di WhatsApp Grup para santri dan jamaah tarekat Shiddiqiyah.

“Mereka itu teracuni oleh video yang memfitnah ibu kami (Endang Yuniati), jika ibu kami dan anak-ananya sebagai keturunan PKI dan Gerwani. Hingga mereka rela mengepung rumah kiainya sendiri yang ditempati salah satu istri dan keluarganya,” kata Gus Qoim.

Kejadian itu, diawali oleh insiden listrik padam di rumah Ibu Endang pada sekitar 17.00 WIB. Sedangkan, di lingkungan lain tetap menyala. Otomatis, semua peralatan elektronik seperti lampu, kipas angin, hingga delapan CCTV (closed circuit television), tidak berfungsi.

“Perlu diketahui, aliran listrik di rumah kami tidak menggunakan meteran sendiri. Tapi menyalur ke travo pondok. Untuk bulanan listiknya, kami membayar ke pengurus pondok bagian yang mengurus listrik. Tidak langsung ke PLN,” ceritanya.

Sekitar pukul 19.00 WIB, Ibu Endang sedang menunaikan Salat Isya dan Tarawih di dalam kamarnya sendiri dengan kondisi gelap. Kemudian, terdengar suara pukulan palu dari arah jendela kamarnya.

“Terdengar Dok, dok, dok dari arah jendela kamar ibu Endang. Kebetulan kamar Ibu Endang berbatasan dengan rumah sebelah yang ditinggali Ibu Sof,” sambungnya.

Dari terdengar suara tak lazim, lanjutnya, Bu Endang pun keluar kamar memanggil putra-putrinya. Karena ibunya memanggil, putra-putri dan menantunya pun keluar untuk memastikan kondisi rumah, meski kondisinya gelap gulita.

“Nah, terlihat ada bayangan seperti kayu yang dipalang berbentuk silang. Bayangan palang kayu itu terlihat, karena di dalam gelap sedangkan di luar rumah, lampu menyala,” papar Gus Qoim.

Dari 3 jendela kamar, katanya, dua di antaranya sudah terpasang palang kayu. Putra ibu Qoim pun berusaha keluar rumah lewat pintu yang berada di luar kamar. Pintu itu biasanya digunakan kiai Tar sebagai akses berkunjung dari rumah yang ditinggali Ibu Sof ke Ibu Endang.

“Kita berusaha membuka pintu dari dalam. Pintu itu masih di wilayah rumahnya Ibu Endang. Tapi kita tidak bisa membukanya. Kita ingin keluar rumah, memastikan siapa yang melakukan pemalangan ini. Juga kita ingin membuka palang kayu itu,” sambungnya.

Qoim mengaku tidak tahu pasti, mengapa mereka menyisakan satu jendela kamar yang tidak dipalang kayu. Akhirnya, putra bu Endang ini memutuskan keluar rumah lewat jendela itu seraya membawa linggis untuk mencopot palang kayu.

“Tujuannya membawa linggis, untuk mencopot kayu yang dipalang di jendela. Kan ini jendela rumah kita,” ujarnya.

Setelah berhasil dicopoti, putra bu Endang ini menuju pintu yang biasanya dipakai akses Kiai Tar. Mereka juga ingin memastikan mengapa pintu khusus tersebut tidak bisa dibuka. Mengingat, untuk balik ke dalam rumah lewat jendela tidak memungkinkan karena kondisi jendela cukup tinggi.

“Ternyata pintu itu ditutup dengan kayu besar, dan banyak tumpukan barang. Pintu itu juga diklaim pakai paku sekrup banyak atau dipati. Kami ada fotonya. Di situ, juga banyak orang. Tapi diam dan hanya melihat saja apa yang kami lakukan membuka pintu itu. Kita juga bilang ke mereka, pintu ini pintu kami, ya nggak masalah kita rusak. Karena pakunya banyak. Ya pakai linggis tadi,” jlentrehnya.

Setelah pintu berhasil terbuka dengan cara merusak, Qoim dan menantu Bu Endang pun masuk dari pintu tersebut. Kemudian, pintu itu dibenahi sampai berfungsi sediakala.

“Waktu kita membuka pintu dengan merusak itu, orang-orang di luar itu hanya diam sambil nyuting. Proses membenahi pintu itu sekitar lebih 30 menit. Setelah beres, kita masuk dan menguncinya. Kami pikir masalah sudah selesai,” imbuhnya.

Tak sampai 3 menit pasca pintu khusus tadi dikunci oleh Qoim, terdengar suara bor dari arah pintu tersebut. “Kita berusaha membuka pintu itu untuk mengetahui siapa yang mengebor. Tapi pintu sudah tertutup oleh papan berbahan triplek,” katanya.

Karena sudah tidak bisa dibuka, Qoim dan menantu Bu Endang memiliki inisiatif keluar dari jendela kamar. Namun saat itu, di luar jendela sudah banyak orang dan menahan agar jendela tidak terbuka. Aksi dorong-dorongan pun terjadi, hingga kaca jendela pecah.

“Kita mendorong jendela itu ingin keluar, agar tahu siapa yang melakukan ini semua. Tapi karena terjadi dorong-dorongan. Mereka banyak. Akhirnya kaca jendela pecah dan mengenai tangan adik saya,” cerita Gus Qoim.

Kemudian, tiga jendela kamar yang dua di antaranya sempat dipalang kayu dan dicopoti, oleh mereka ditutup papan triplek, dan diberi kayu lagi.

“Jendela ditutup ketiga-tiganya dengan tripleks ditambah kayu. Kita di dalam akhirnya pasrah. Posisinya kita di dalam tetap gelap gulita. Dan ketiga jendela dengan kondisinya begitu sampai sekarang,” ungkapnya.

Ditanya berapa orang di dalam rumah, Qoim menyebut ada 16 orang. Sepuluh di antaranya adalah keluarga inti. Sedangkan sisanya, abdi ndalem. “Dari 10 keluarga inti, yakni Bu Nyai Endang, dua putra dan dua putrinya, satu menantu, dan 3 cucunya,” katanya.

Selang beberapa saat, adik Gus Qoim mengetahui kalau ada sejumlah orang sedang melompat pagar pertama rumah Bu Endang, yang ukurannya tidak seberapa tinggi alias rendah.

“Kita pun meminta tiga orang untuk mengecek, ternyata sudah ada sekitar 100 higga 200-an orang di luar pagar pertama. Di rumah Bu Nyai Endang itu ada dua pagar. Pagar pertama dan kedua. Dan yang berhasil melompat pagar pertama, sekitar lima orang,” katanya.

“Kita meminta agar mereka keluar. Tapi mereka tidak menjawab, juga tidak bergerak. Hanya memvideo. Yang di luar pagar juga memvideo aktivitas di dalam. Kami pun akhirnya memvideo juga,” sambung Gus Qoim.

Anehnya, kata dia, sejumlah orang yang berhasil masuk setelah melmpat pagar pertama, tidak maun menyebut namanya ketika dihalau menantu dan anak Bu Endang serta sejumlah abdi ndalem.

“Ketika kita tanya siapa namanya, mereka malah mengaku lupa sambil kepalanya seolah ‘diserahkan’ ke kita. Siapa ya nama saya,” sambung Gus Qoim menirukan jawaban dari sejumlah orang tersebut.

Dalam suasana mencekam itu, Gus Qoim mengatakan, jika mendapat informasi dari sejumlah rekannya jika mereka tidak bisa masuk ke dalam rumah Bu Endang. Karena sebelumnya, mereka dimintai tolong oleh Gus Qoim untuk datang. Termasuk meminta bantuan mendatangkan genset. Karena diakuinya, di rumah Bu Endang tidak memiliki genset.

“Ya begitu, yang di dalam nggak bisa keluar, dan yang di luar nggak bisa masuk. Karena sudah diblokade manusia. Genset itu akhirnya bisa masuk sekitar pukul 21.00 WIB bersamaan dengan sejumlah personel TNI dan Polisi yang datang setelah kita meminta bantuan. Sebelumnya, genset itu dilarang masuk oleh keamanan pondok,” ulasnya.

Permintaan genset, katanya, lantaran petugas PLN yang mendapat laporan terkait padamnya listrik di rumah Bu Endang, tidak menemukan penyebabnya. Namun, saat akan dilakukan pengecekan di titik travo, petugas PLN mendapat hadangan.

“Petugas PLN datang ke rumah itu Magrib. Karena tidak menemukan masalah di dalam rumah, mereka pun keluar rumah untuk ke area travo. Tapi dilarang masuk oleh massa. Alasannya, di dalam ada kegiatan. Dan petugas PLN diminta besok saja kalau mau bekerja. Malam ini tidak boleh,” paparnya.

Karena mendapat hadangan, petugas PLN akhirnya meminta maaf karena tidak bisa menjalankan tugasnya.

“Tapi petugas PLN itu berpesan, ini berbahaya. Karena alirannya tidak diputus, melainkan voltase-nya dinaikkan menjadi 380. Normalnya kan 220 volt, maksimalnya 240 volt. Itu kalau nggak sampean cabut, akan rusak semua. Atau sekalian diputus saja jalur yang dari belakang itu. Itu bisa terbakar juga. Itu pesannya. Akhirnya, kita putus sekalian,” cerita Gus Qoim.

Lampu di dalam rumah Bu Endang bisa menyala meskipun terbatas, setelah genset berderu. Hanya saja, berlangsung tidak mulus. Pasalnya, genset belum diisi bahan bakar bensin.

“Negosiasi untuk membeli bensin pun tidak bisa. Kita dilarang keluar membeli bensin. Beruntung, ada sepeda motor yang tangkinya cukup besar, kebetukan bensinnya penuh. Bensin di motor itulah, akhirnya kita pindahkan ke genset,” ujarnya.

Diakuinya, suasana mencekam itu terjadi selama dua hari. Dan senyampang itu, keluarga Bu Endang tidak keluar rumah. Bahkan, salat Idul Fitri pun ditunaikan di rumahnya yang kondisinya tersegel tersebut.

“Kondisinya saat itu mencekam. Kami sangat khawatir dengan keselamatan kami. Apalagi di dalam rumah juga ada 3 balita,” pungkas Gus Qoim. *)

Baca Sebelumnya: Difitnah dan Rumahnya Disegel, Putra Kiai Sepuh di Jombang Mengadu ke Polda Jatim

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *