Sembahyang Imlek 2022 di Klenteng Hong San Kiong Gudo Jombang, Ini Harapan Wanita 87 Tahun

  • Bagikan
Salah satu proses sembahyang yang dilaksanakan Liem Ing Nio, wanita 87 tahun salah satu tokoh TITD Hong San Kiong, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang.

FaktaJombang.com – Motivasi perempuan berusia 87 tahun ini patut ditiru. Di usianya yang tak lagi muda, wanita yang tinggal di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang ini, tetap menjalankan ibadah di tengah kondisinya yang sedang sakit.

Wanita tersebut bernama Liem Ing Nio. Ia seolah tak rela bila tidak hadir untuk sembahyang dan membagikan angpau saat perayaan hari raya Imlek 2022 atau tahun baru China 2573, Selasa (1/2/2022).

Liem Ing Nio sendiri merupakan salah satu tokoh umat konghucu sekaligus pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hon Sang Kiong, Desa Pesanggrahan, Gudo, Jombang.

Karena faktor usia dan kesehatan, wanita ini datang ke klenteng tertua di Kabupaten Jombang ini, menggunakan kursi roda. Diiringi tujuh anaknya dan sejumlah cucunya.

“Beliau sakit stroke, sudah hampir lima tahun ini,” kata Catherine (54) putri nomor lima Liem Ing Nio.

Di atas kursi roda, Liem Ing Nio tampak khusyuk menjalani setiap prosesi sembahyang di klenteng Hong San Kiong, meski mayoritas pergerakan sembahyangnya kali ini dibantu anak-anaknya.

Seperti berpindah dari satu meja altar satu menuju lainnya, menggerakkan dan menaruh dupa atau hio, hingga memberi salam penghormatan leluhur ala gongshou di depan sejumlah altar.

Catherine mengatakan, kecintaannya pada tempat ibadah Tri Dharma Hong San Kiong inilah yang menggerakkan hati ibunya untuk selalu hadir dan sembahyang di klenteng tersebut. Terutama saat perayaan Imlek.

“Setiap kali ibu berada di rumah Pesanggrahan sini, pasti meminta sembahyang ke sini, meskipun beliau sakit,” ungkap Catherine, usai mendampingi ibunya sembahyang.

“Sembahyang ini memohon pengampunan dan berkah untuk tahun yang akan datang. Semoga senantiasa diberi kesehatan Seluruh keluarga juga sehat, lancer rezeki dan bahagia,” sambungnya.

Dirinya juga berharap, ritual yang dilakukan umat Konghucu pada perayaan Imlek tahun 2022 ini, mampu memberikan kedamaian dan keamanan bagi bangsa dan negara Indonesia.

“Juga agar bangsa Indonesia ini sejahtera, dan bisa bangkit kembali dari pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Senada juga dikatakan Lauw Tjoe Hay (61), putra nomor dua Liem Ing Nio. Dia mengaku bersyukur, perayaan Imlek tahun 2022 ini berlangsung lancar dan aman. Termasuk prosesi sembahyang dirinya bersama ibu dan saudara-saudaranya.

“Harapannya selalu sehat, diberi panjang umur, dilimpahkan rezeki,” kata Lauw Tjoe Hay.

Dikatakannya, sebelum sembahyang ke klenteng Hong San Kiong, ada tradisi yang senantiasa dilaksanakan di dalam keluarganya. Yakni penghormatan bagi orang tua.

“Kita mengormat ke orang tua, biasanya itu sujud dua belas kali. Ibaratnya itu, orang tua ini sebagai Tuhan yang kelihatan. Selanjutnya ke klenteng ini untuk mengucapkan hari raya Imlek kepada Yang Mulia Khong Co ,” papar Lauw.

Sementara ketua TITD Hong San Kiong, Toni Harsono membenarkan, Liem Ing Nio ini adalah istri dari pengurus dan tokoh klenteng Hong San Kiong. Meski usianya sudah 87 tahun dan dalam kondisi sakit, Liem Ing Nio tetap memiliki niat yang kuat untuk sembahyang di klenteng.

“Kami berharap, generasi muda mau melestarikan tradisi dan budaya Tionghoa seperti ibu Liem Ing Nio ini,” ucapnya.

Toni Harsono mengatakan, Imlek merupakan perayaan musim semi. Dalam perspektif negara atau Kemenag RI, Imlek adalah hari raya agama Konghucu. Ia tidak menyoal, jika ada perspektif lain yang memaknai Imlek sebagai tradisi.

Disinggung makna Imlek tahun ini yang merupakan tahun Macan, Toni Harsono mengatakan, setiap peringatan Imlek, tentu harapannya agar kehidupan ini lebih baik.

“Kalau secara khusus soal tahun macan, saya tidak menjelaskan ya. Tapi menurut saya, setiap tahun apapun tahunnya, harapan kami kehidupan lebih baik. Semoga pandemi Covid-19 ini berakhir dan semua kembali normal,” ujarnya.

Perayaan Imlek tahun ini, kata Toni Harsono, masih dalam nuansa pandemi Covid-19. Perayaannya sama dengan dua tahun sebelumnya, yakni menahan diri untuk tidak menggelar acara yang meriah.

“Tentunya sebelum Covid-19, lebih meriah ya. Seperti gelaran Barongsai, kita nggak boleh main,” pungkas Toni Harsono.

Toni Harsono, Ketua TITD Hong San Kiong,, Gudo Jombang.

Tonton videonya:

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *