FaktaJombang.com – Ada jenis kematian yang datang dengan tangisan. Ada juga yang datang dengan keramaian, doa, dan pelukan. Tapi ada satu jenis kematian lain yang datang dengan cara paling sunyi, tidak disadari siapa pun, sampai tubuhnya sendiri yang “memberi tahu”.
Itulah yang terjadi pada AH (43), seorang pria yang tinggal sendirian di rumahnya di Desa Janti, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Ia ditemukan sudah meninggal dunia pada Selasa pagi (24/2/2026), bukan karena seseorang melihatnya, tapi karena tubuhnya lebih dulu memberitahu tetangga.
Saat ditemukan, kondisinya sudah membusuk. Bau tak sedap memenuhi rumah, sebuah tanda yang tidak pernah salah, bahwa kehidupan telah lama pergi dari tempat itu.
AH diketahui tinggal seorang diri. Ia juga memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Tidak ada yang benar-benar tahu kapan tepatnya ia meninggal. Tidak ada saksi. Tidak ada percakapan terakhir yang bisa dikenang. Yang tersisa hanya tubuh yang tergeletak di lantai, dan rumah yang terlalu lama diam.
Menurut Kapolsek Mojoagung, Kompol Yogas, jasad korban pertama kali ditemukan oleh kakak kandungnya yang datang berkunjung. Mungkin awalnya itu hanya kunjungan biasa, mengetuk pintu. Tapi yang ditemukan bukan jawaban. Hanya keheningan.
Saat pintu dibuka, AH sudah ditemukan tergeletak di lantai, tidak bergerak, tidak bernapas, dan tidak lagi menjadi bagian dari dunia yang sama.
“Posisi korban sudah tergeletak di lantai dan dalam kondisi meninggal dunia,” kata Yogas.
Petugas yang datang ke lokasi menemukan kondisi jasad yang sudah rusak, membengkak, dan menghitam. Bau menyengat memenuhi ruangan, seolah menjadi satu-satunya hal yang tersisa untuk menandai bahwa seseorang pernah hidup di sana.
Hasil pemeriksaan luar tidak menemukan tanda kekerasan. Dugaan sementara, kematian korban berkaitan dengan kondisi kesehatannya sendiri. Tapi seperti banyak kematian sunyi lainnya, detailnya mungkin tidak akan pernah benar-benar diketahui.
“Hasil pemeriksaan luar oleh tim kesehatan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang pada jasad korban yang menyebabkan kematiannya,” lanjut Yogas.
Pihak keluarga memilih untuk tidak dilakukan autopsi. Mereka menerima kepergian AH dengan ikhlas. Polisi pun menghormati keputusan itu.
Pada akhirnya, AH dimakamkan seperti manusia lainnya. Tapi ada satu hal yang berbeda, ia pergi tanpa ada yang tahu persis kapan ia benar-benar sendirian. Dan mungkin, itulah bagian paling menyedihkan. Bukan kematiannya, tapi kesunyian yang mendahuluinya. (*)
Editor : Arief Anas






