FaktaJombang.com – Ada pemandangan yang agak tidak biasa di sebuah tanah tegal atau ladang di Dusun Glugu, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Selasa siang (24/2/2026). Biasanya, kalau ada polisi, warga refleks merapikan helm atau memastikan spion tidak dimodifikasi ala antena parabola. Tapi kali ini berbeda. Yang dibawa polisi itu bukan surat tilang, melainkan satu kwintal bibit jagung.
Adalah Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, yang datang langsung ke ladang milik Zainul Muhid. Ladang seluas kurang lebih lima hektare itu mendadak naik kasta, dari cuma tegal biasa menjadi lokasi simbolis dimulainya program tanam jagung demi sesuatu yang terdengar besar, yaitu swasembada pangan.
Bibit yang diserahkan bukan sembarang bibit. Jenisnya Bisi-18, nama merek yang akrab terdengar di telinga, padahal ujung-ujungnya tetap diharapkan jadi jagung yang bisa direbus, dibakar, atau minimal jadi pakan ternak yang layak.
Bantuan itu diberikan kepada Gapoktan Desa Katemas, Kecamatan Kudum Kabupaten Jombang yang tentu saja tidak menolak. Siapa juga yang menolak bibit gratis? Apalagi di tengah situasi di mana bertani kerapkali lebih banyak mengandalkan doa ketimbang kepastian cuaca dan harga pasar.
Kedatangan Kapolres siang itu tidak sendirian. Ada rombongan lengkap, di antaranya pejabat utama Polres, Kapolsek, anggota Koramil, camat, kepala desa, sampai perangkat pertanian. Komposisinya mirip reuni besar birokrasi, hanya saja alih-alih duduk di aula ber-AC, mereka berdiri di tanah tegal yang kalau hujan bisa berubah jadi lumpur, dan kalau panas bisa bikin kulit serasa dipanggang.
Dalam sambutannya, AKBP Ardi menegaskan, program tanam jagung ini bukan sekedar seremoni yang selesai setelah foto bersama dan unggahan media sosial. Setidaknya, itu harapannya.
“Kami hadir untuk memberikan dukungan dan semangat kepada para petani. Ini bukan hanya kegiatan simbolis, tapi komitmen bersama untuk swasembada pangan,” ungkapnya.
Kalimat “bukan sekadar simbolis” ini penting. Karena kita semua tahu, di negeri ini, banyak hal dimulai secara simbolis dan berakhir juga secara simbolis.
Targetnya tidak main-main, yakni lima hektare jagung di setiap desa. Kalau dihitung-hitung, ini seperti upaya kolektif untuk memastikan jagung tidak hanya jadi bahan baku jajanan jasuke di pusat kuliner, tapi juga jadi bagian dari strategi besar menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, sebuah frasa yang sering diucapkan dengan optimisme setinggi langit, meski kadang realitas di sawah masih setinggi mata kaki.
Setelah penyerahan bibit secara simbolis, yang tentu saja diabadikan kamera, Kapolres dan rombongan ikut menanam jagung. Gerakan menanam itu sederhana, dimulai melubangi tanah, memasukkan benih, lalu menutupnya kembali. Tapi di balik gerakan sederhana itu, ada harapan panjang yakni benih jagung itu benar-benar tumbuh, bukan hanya secara harfiah, tapi juga secara politis, ekonomis, dan kalau boleh berharap lebih jauh tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan semata.
Di tengah segala keraguan yang sering menyertai program-program besar, setidaknya siang itu, di sebuah ladang di Desa Katemas Kabupaten Jombang, ada satu hal yang pasti, jagung-jagung itu sudah ditanam. Sisanya, seperti biasa, kita serahkan pada cuaca, waktu, dan tentu saja konsistensi manusia yang menanamnya.
Editor : Arief Anas






