Dengan begitu, mereka akan tersugesti bahwa hanya penanganan tak lazim bin ‘nyeleneh’ itulah satu-satunya cara untuk mengeluarkan benda-benda yang dianggap gaib tersebut.
Sumber juga mengatakan, praktik pengobatan ala Gus N ini dilakukan di rumahnya. Bahkan, tak jarang juga dilakukan di musala yang berada di depan rumahnya.
“Kalau di musala, pakai tabir. Misalnya pengobatan itu pada Minggu bersamaan dengan pengajian rutin. Pengobatannya dilaksanakan ketika pengajian selesai dan jamaah pulang,” paparnya.
Dia membeber, saat proses pengobatan nyeleneh itu berlangsung, posisi si pasien berbaring. Kemudian bagian paha dalam posisi terbuka. Sedangkan tas plastik alias kresek hanya sebagai alas.
Sementara sang Gus N saat proses pengobatan, lanjut Sumber, kerapkali pakai celana pendek. Dia mengatakan, cukup jarang pakai sarung saat pengobatan berlangsung.
“Ya permisi ya, tangannya itu dimasukkan ke kemaluan. Sampai keluar cairan. Katanya, cairan itu juga merupakan bentuk perwujudan dari santet. Saya tahu sendiri, karena saya beberapa kali mendampingi istri saya menjalani pengobatan itu. Kalau Gus e sering pakai celana pendek, jarang pakai sarung saat proses pengobatan,” bebernya.
Disinggung mahar pengobatan tak lazim itu, sumber menjawab tidak ada mahar yang dipatok. Hanya keikhlasan jamaah yang menjadi pasien saja.
“Kalau soal dana, biasanya jamaah memberi seikhlasnya saat pengajian rutin. Kadang juga menyindir bagi jamaah yang kaya. Tapi nggak ada paksaan. Untuk mahal pengobatan tidak ada, hanya seikhlasnya,” papar sumber.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






